Sabtu, 05 April 2014

BUKAN MILIK KAU


Ternyata tak hanya makanan belaka  yang iya incar
Tapi juga selembar kertas ia rauk pula
Selembar kertas yang membuat bola mata setiap orang menghijau

Padahal itu bukan miliknya
Bukan pula hak ia dapat
Mengapa kau harus rauk itu semua
Sampai wadahnya kau jilat sedap

Kaukah kau milik siapa lembaran kertas itu,
Wahai dewa!
Kami, kaum rumput sepak bola,
meluapkan kantong dan menyodorkan tangan ini untuk negri
Untuk saudara-saudara kami yang dapurnya tak ngebul
Untuk saudara-saudara kami yang Kasurnya sekeras batu
Untuk saudara-saudara kami yang bergaul dengan ngiangan lalat
TAK DAN HANYA

Di bawah jembatan layang
Tak ku lihat seorang pun menanak nasi
Tak ku lihat seorang pun menjijing kresek putih berisi sayur-mayur
Tak ku lihat seorang pun menyiang insang ikan
Hanya duduk terlamjun dan tangannya menengadah
Sambil berkata, “kali belum amkan tiga hari”

Di pealataran trotoar
Hanya ku lihat orang-orang berkulit dekil
Hanya ku lihat orang-orang dengan baju robek di ketiaknya
Hanya ku lihat orang-orang dengan gelas plastiknya berisi gopean
Tak aada satu pun yang memegang sedok dan garpu
Tak kurang aku mendengar prasa, “Kami belum makan tiga hari”

Aku tak tega meratapinya
Tak kuat mengikuti satu persatu kalimatnya
Hanya dengan uang kecil ku sodorkan
Dan segelintir senyum ku tebar

Bogor, 4 April 2014

SEMUT HITAM

Aku adalah seekor semut hitam
yang tak kurang besarnya dari lubang hidumu
dan tak kurang pula massanya dari sehelai bulu halusmu
Akulah tak meronta pada tuhan
untuk dipakaikan sebuah baju zirah
hanya ntuk membungkam hati tinggimu
                      
Walau  harus menyelam di Lautan Pasifik
dan bermain dengan sekelompok hiu yang giginya bagai gergaji
Aku tak goyah
Tetap dalam pijakan semestinya

Walau Pasifik harus berubah menjadi Laut Merah
dan auranya berlapis darah kental
Aku tak goyah
Tetap dalam pijakan semestinya

Kau tahu
Mengapa seekor semut sepertiku bias menjadi seorang Bruce Lee?
Walau badan kosong melontong
dan irama wajah semraut
Tak gentar dari ubun-ubun sampai ujung kaki

Satu hal yang ku genggam erat
Seerat simpul hidup seorang Soekarno
Bara api yang melahap hati dan aura
dan sinar matahari yang menerangi qalbu ini
Sinar yang dianugrahkan dari Sang Perkasa
Raja dari segala raja

Itulah belati yang ku genggam
Untuk membungkam hati tinggimu

KSATRIA HAWA


Kepada mu yang tegar

Wahai Nusaibah sang ketria hawa
Tahu kah kau siapa dirimu?
Diri asli yang terselinap di sempal jiwamu
Sampai kau bias melumpuhkan aku yang lemah ini
Hanya dengan pandangan sekelebat

Ranah ini seperti menolak parasmu
Rumpun ini bagai menolakmu hingga ia tak mau disentuh
Dan hanya sebagian kecil ubun-ubun yang berfikir
Bahwa kau itu manusia hebat

Mungkin di antara ubun-ubun itu adalah
Aku……
Si lemah dari metropolitan

Walaupun tak pernah melihat sehelai rambutmu
Tapi aku yakin
Rambutmu itu berwarna merah
Bukan karena polesan pewarna
Atau ingin terlihat jelita semata
Tapi warna yang melambangkan ketegaranmu yang membuncah

Kau itu seperti Naila, istri Sayyidina Utsman
Kau adalah salah satu kaum hawa yang suka menenteng pedang
Bukan untuk menebas leher
Atau untuk menusuk ulu hati
Agar tetap tersangkar dalam pelupuk hati

Setiap kali aku melihatmu aku berfikir
Betapa reotnya aku
Lebih reot dari kayu santapan rayap

Ingin sekali aku memakai baju zirah seperti yang kau pakai
Menjadi lebih tegar
Itulah yang ku harap
Walau harus ditolak berbagai ras
Tetap kokoh dalam pondasi

Terima kasih
Kepadamu yang tegar